Tampilkan postingan dengan label Tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 September 2014

Menjadi Indonesia?

Saya membeli buku berjudul "Menjadi Indonesia, karya Parakitri T. Simbolon" saya membelinya bertahun-tahun lalu. Selepas debat capres putaran 5, terakhir, kemarin. Entah kenapa ingin rasanya mebaca ulang buku ini. Rasanya,.. ada yang salah. Rasanya,.. kita tak Indonesia lagi.



Berdebat itu sejatinya memang upaya mempertahankan pendapat, ide, mimpi atau apalah itu. Tetapi orang seringkali lupa menempatkan debat, berdebat itu seni. Oleh karenanya butuh kepintaran tak saja keluasan pengetahuan materi perdebatan, tetapi lebih dari itu, dibutuhkan kehalusan perasaan untuk: menentukan apakah mesti diucapkan atau tidak diucapkannya sebuah kalimat; apakah kita harus bermimik serius ataukah santai; bagaimana gerak tubuh dan seterusnya. Kehalusan budi inilah yang kemudian akan membuat orang menjadi tertarik atau tidak terhadap ide yang dipertahankan. Seringkali kita akan dihadapkan pada fakta orang tak lagi melihat isi ucapan, tapi penampilan pengungkap ide. Pernah nonton film Schindler's List karya   Steven Spielberg? Film yang diangkat dari novel Schindler's Ark karya Thomas Keneally  ini menampilkan satu adegan menarik, percakapan antara Schindler dan seorang german lain. Mereka mengomentari penampilan pertama Hitler di komunitas Nasionalis jerman (kedai bir tempat orang-orang nasionalis berorasi) waktu itu Hitler bukan siapa-siapa, hanya seorang pengunjung, tapi mendapat sambutan yang baik dari para pendengar. Yang menggelitik adalah komentarnya "Kalau mendengar Hitler bicara, rasanya seperti mendengarkan harapan besar, saya bertepuk tangan keras sekali. Dan saya lihat orang lainpun begitu. Tetapi kalau saya sampai dirumah, dan mengingat-ingat lagi ucapannya. Saya bingung, kenapa ucapannya hanya kumpulan makian dan sumpah serapah?"
Tetapi itulah inti dari berbicara di muka umum. Membuat pendengar lupa dimana posisinya lalu menggeserkannya menjadi sepaham dengan ide yang kita ungkapkan. Tak banyak orang memiliki kemampuan menarik ini. Tetapi orang juga seringkali salah melihat. Orang banyak sering menyebut orator, pembicara yang gegap gempita lah, person satu-satunya yang memiliki kemampuan ini. Orang mungkin lupa banyak tokoh yang lemah lembut tapi berhasil membuat pendengarnya terhipnotis. Beberapa waktu lampau kita mungkin ingat pernah punya tokoh model ini. Abdullah Gymnastiar, kalau beliau berbicara jarang keras-keras. Bicaranya lembut tapi siapa yang lupa bagaimana ia dielukan oleh para pendengarnya? atau mungkin kita punya tokoh yang aneh satu lagi Quraish Shihab, Tokoh satu ini kalau sedang menjelaskan Al Qur'an tidak dengan gegap gempita, tidak dengan lucu-lucuan (seperti kebanyakan da'i muda sekarang) Tapi anehnya, jarang kita melihat para pendengarnya terkantuk-kantuk kan?
Jika begitu, kita akan berhadapan dengan dua kesimpulan. Untuk menyampaikan ide itu butuh pendekatan yang sejatinya memang merupakan gaya asli yang bersangkutan - tak meniru. Setiap orator ulung paham betul intonasi yang dia butuhkan. Tak segala hal mesti diungkapkan dengan semangat berkobar, bisa juga dilakukan dengan santai dan lemah lembut. Pengetahuan yang cukup tentang pendengar dan apa yang ingin mereka dengar ini lah yang memang penting. Hal ini akan berlanjut pada pentingnya apa yang mesti diucapkan, dan untuk segmen pasar mana yang ingin kita raih. Sebagai marketer ide, kemampuan memilah segmen ini menjadi penting.
Ada dua catatan penting dari debat calon presiden putaran 5 ini dalam hubungannya dengan pengantar saya:
  1. Segmen yang ingin diraih. Kedua belah pihak tampaknya sama-sama tidak melebarkan segmen pemilihnya. Pasangan no urut 1 mas Prabowo dan Bang Hatta, masih berkutat pada upaya mempertahankan segmen pemilihnya yang mampu memahami wawasan bernegara secara makro. Oleh karenanya pasangan ini lebih banyak bicara negara secara makro. Ide-idenya bersifat pundamental, mendasar. Hal ini tentu akan mudah dipahami oleh segmen mereka selama ini, kelas menengah Indonesia. Tetapi jika dihadapkan pada "rakyat" yang dikonotasikan sebagai kelas bawah Indonesia, menyampaikan hal ini seringkali sia-sia. Apalagi jika menggunakan istilah-istilah ekonomi (baca: asing) dalam memaparkan idenya. Bagi kelas bawah indonesia ini menjadi tidak bermakna. Bertolak belakang dengan itu, mas Jokowi dan pak JK lebih menyasar ide-ide yang sederhana dan aplikatif. Bagi "wong cilik" (sebutan untuk kelas bawah Indonesia, dulu sering disebut "marhaen"), pemimpin model inilah yang mereka tunggu-tunggu. Pemimpin yang jangka pendek, yang bisa menyelesaikan masalah mereka sekarang! Dari sisi cawapresnya, bang Hatta memang birokrat-konseptual, sedangkan pak JK lebih mirip pelaku Honda-Way. Saling bertolak belakang.  Sehingga konsep pembangunan keduanya juga tentu akan berbeda. Bang Hatta akan lebih tertarik pada perencanaan-perencanaan jangka panjang, sengakan pak JK jenis birokrat yang langsung datang ke tempat masalah, berusaha menyelesaikannya lalu baru membuat kerangka konsep untuk masa depan, untuk jenis masalah yang komplementer. Kalau kita menilik upaya para pihak yang sedang bertarung dalam pilpres ini, tampak sekali kedua pihak tidak melakukan upaya keluar dari segmen mereka masing-masing. Yang ada lebih cenderung upaya untuk menjaga jangan sampai simpatisan tradisional masing-masing mereka tak berkurang. Upaya sporadis? ada juga. Tapi tampak tak efektif dan malah memancing kontroversi yang tak perlu. Konsep pundamental "revolusi mental" yang sangat ideologis ini dari mas Joko misalnya. Tampak tidak efektif mengaet segmen kaum menengah Indonesia yang terbiasa diajak berdiskusi hal-hal yang bersifat mendasar. Begitupun upaya mendekati "wong cilik" dari kubu mas Probowo, lebih sering dicibir sebagai upaya sesaat pemilu alih-alih dipandang sebagai upaya jujur mewakili mereka. Bahkan seringkali upaya ini menjadi salah kaprah dilapangan menjadi money politics. Yang paling lucu adalah upaya masing-masing pihak untuk menarik kaum santri-agama. Sampai-sampai upaya yang dipaksakan seperti memimpin shalat berjamaah, sering mengucapkan kalimat berbahasa arab, dikalungi sorban oleh kyai dst. Yang jadi pertanyaan apa itu kemudian menjadi representasi rakyat terhadap kebutuhan pemimpinnya? Jangan-jangan upaya ini malah menjadi bahan tertawaan dan yang ditakutkan adalah terpecahnya ummat. Lagi pula, sebagai muslim kelas teri, muslim yang pemahaman agamanya miskin,.. terus terang saya merasa tersinggung agama yang begitu saya hormati dijadikan mainan semata. Sejelek-jeleknya saya dalam ber-Islam,.. rasanya saya tak seberani mereka. Dari catatan ini bisa kita ambil kesimpulan kedua belah pihak gagal memperlebar segmen masing-masing. Mengecil atau membesarnya elektabilitas kedua pasangan ini akhirnya lebih dikarenakan makin banyaknya berita yang menampilkan karakter dan gaya masing-masing kandidat (termasuk para pendukungnya) di detik-detik terakhir. Data ini lah yang kemudian akan membuat perubahan, makin besar efek beritanya, makin besar efek pergerakan suaranya.
  2. Tentang ke-Indonesiaan. Saya mendengar beberapa kali kalimat "saya orang Indonesia,.. dst" Seakan mau menunjukkan "Loe bukan Indonesia!" Tetapi ada beberapa segmen yang menurut saya tampak tak Indonesia, terlalu barbar untuk ditunjukkan di muka umum. JANGAN LUPA, INI DEBAT PILPRES BUNG! BUKAN LOMBA DEBAT ANTAR SISWA SMA!  Pilihan materi pertanyaan di sesi ke 5, pilihan kata dalam menjawab, pilihan gerak tubuh masing-masing pihak. Tampak sekali ada yang kurang Indonesia! dan saya terus terang malu sebagai calon pemilih, sebagai orang Indonesia yang akan memilih! kok bisa-bisanya bangsa saya menghasilkan calon seperti ini? Bagi saya lagi-lagi, persoalan debat ini sama sekali bukan menguji ke-intelek-an masing masing kandidat. Tetapi lebih ingin menyaksikan secara langsung kelayakan mereka sebagai pribadi. Tampil dimuka umum selama 5 kali; waktu yang sempit untuk berkonsultasi dengan tim; waktu yang sempit untuk melihat point catatan dll. Akan membuat mereka menampilkan dirinya yang sejati. Tanpa polesan, dan kepribadian yang muncul itulah yang akan mengatur-memimpin kita selama 5 tahun kedepan. 5 tahun lho! 5 tahun! Jika selama ini masing-masing pihak cenderung genit dan kemayu untuk mengadu "kampanye hitam", pada setiap sesi ke 5 ini lah akan tampak kepribadian masing-masing mereka. Rasanya tak cukup adail bagi saya untuk mengungkapkan secara detil sesuatu yang saudara sebangsa lihat sendiri juga (lagi pula ini sudah masuk masa tenang, setiap orang Indonesia wajib menjaga itu :) ) Tetapi saya yakin saudara semua juga bisa melihat kepribadian masing-masing kandidat tadi malam.
Diluar konteks komentar saya diatas, ada hal yang saya pelajari betul, "persiapan besar kita, seringkali gagal karena lupa memperhatikan persiapan kecil yang remeh temeh"
Akhirnya, bagi saudara sebangsa, Se-Indonesia. Selamat memilih, pilihlah pemimpin yang betul-betul anda butuhkan 5 tahun kedepan, jangan sampai menyesal, membuang waktu yang tak mungkin kembali. Ingat resiko kegagalan anda memilih bukan anda saja yang menanggung. Tapi anak-cucu-dan keturunan kita kelak, Bangsa Indonesia dimasa depan itu!

Merdeka!
Abah.Dr+

Minggu, 02 Juni 2013

Nasionalisme Kita


Hari ini, kita tiba-tiba tererek pada perdebatan kuno bahwa "karena kau seorang nasionalis maka kau belum cukup Islami". Pemikiran ini, dalam perjuangan kita sebagai sebuan nation state sangat berbahaya. Saat ini kita sedang dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber daya apapun di dunia semakin menipis. Mungkin, hanya sumber daya manusia yang makin berlimpah baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Kita, pada saat ini dihadapkan pada sebuah realita bersama bahwa sumber daya yang hanya tinggal secuil ini akan layak diperebutkan bahkan dengan nyawa dan darah. Pemikiran-pemikiran yang akan merubah kemapanan kita dalam berbangsa-bernegara hanya akan berpotensi melemahkan kekuatan kita! Indonesia itu satu! dan hanya satu-satunya! Tidak ada itu Indonesia yang Islam, yang Kristen, yang Budha, yang Hindu, yang Konghucu... Yang ada hanya Indonesia yang satu saja.

Indonesia, itu tidak dibangun oleh semangat keagamaan, karena kalau kita membangunnya dengan semangat itu, kita akan menjadi negara yang bercerai berai: Orang Melayu yang Islam bisa menganggap saudara Bataknya yang Kristen bukan Saudara! pemikiran macam apa itu? Orang Dayak yang Kristen bisa menganggap saudara Melayunya yang Kristen bukan Saudara! Orang Menado tak akan menganggap orang Makasar Saudara dan seterusnya. Bahkan mungkin kita akan mengenal orang Bali yang Hindu menyatakan kemerdekaan negerinya yang berdaulat karena kehinduannya! Bayangkan betapa kecilnya negeri Batak yang kristen? kita akan menjadi bangsa yang lemah! karena kita tak lagi menjadi bangsa yang kuat-bersatu!

Indonesia kita itu adalah Indonesia yang dibangun oleh semangat persaudaraan, dan sayapun yakin Muhammad Rasulullah juga mengajari kita untuk saling menghargai dengan berbagai jenisnya tetangga kita dalam membangun sebuah negara di Mekah dan Madinah. Dan kita pun di Indonesia begitu adanya. Kita percaya bahwa, Indonesia yang kita bangun itu adalah Indonesia yang beragam. Tapi kita percaya bahwa keberagaman itu adalah kekuatan! bukan kelemahan kita!

Apakah itu berarti kita kurang Islami? Indonesia kita adalah Indonesia yang saling memberi warna. Kesantunan kita sebagai sebuah bangsa membuat kita paham- sepaham-pahamnya, kapan kita berbicara sebagai seorang Muslim dan kapan kita bicara sebagai seorang Indonesia! Ingatlah! kita juga memiliki paham internasionalisme seperti dalam Islam. Internasionalisme kita adalah kepahaman kita dalam upaya menghargai hak setiap bangsa, hak sebagai manusia! Jadi, bagi kita orang Indonesia tak perduli dia yang Islam, yang Kristen, yang Budha, yang Hindu atau siapapun: Kita tak akan pernah berpaling muka, membuat standar ganda dalam menghargai kemanusiaan kita sebagai bangsa Indonesia dan kemanusiaan kita sebagai bagian dari bangsa-bangsa di Dunia.


Selama ini kita paham betul, bahwa tak seorangpun boleh menindas orang lain, sebuah bangsa menindas bangsa lain, sekelompok agama menindas sekelompok agama lain. Kita paham betul bahwa kita sama-sama makhluk  Tuhan, Manusia ciptaan Allah, tak perduli warna kulit, bangsa dan agamanya. Kita orang Indonesia percaya bahwa kita adalah bagian dari persaudaraan dunia. Jadi tak layaklah orang menilai "kelayakan saya sebagai seorang muslim hanya karena semata saya seorang nasionalis" Karena yakinlah pemegang kunci surga itu hanya Allah ta'ala. Maka saudaraku, Tetap banggalah kau sebagai seorang Indonesia, yang nasionalis! Berdampingan dengan kebanggaanmu sebagai seorang Muslim!

Minggu, 12 Mei 2013

Kepada Rakyat Indonesia


Rakyat!
kita juga pemilik republik ini

Jika mereka, ular beludak itu pikir cuma mereka yang memiliki hak untuk merampok republik
jangan salah, kita juga boleh
untuk apa kita berharap pada omong kosong
ini bukan lagi masa pemilu
buat apa kita menyempatkan diri mendengarkan ceramah bodoh mereka tentang berbakti pada negeri
kalau mereka tak lebih haram jadah!

Rakyat!
kita juga pewaris republik ini

Apa hak mereka melarang menjarah hutan, merampok lautan, mengeruk bumi?
jangan salah, kita juga boleh
para bedebah itu telah lama meracuni kita soal korupsi, kolusi, nepotisme
padahal mereka lah embahnya iblis bermuka manusia

Rakyat!
kita juga pemilik republik ini

Ayo kita juga bergerak
ambil apa yang bisa kita ambil!

begeraklah!
dan jadilah bedebah yang hebat!

Kepada Engkau, Rakyat!


Rakyat!
Tengoklah mereka yang telah dengan ikhlas kita pilih di pemilu lalu, yang susah payah kita pilih dari jutaan orang Indonesia. Dan lihat lah apa yang sedang mereka kerjakan pada kita? Cuma kibas-kibas uang, uang APBN, uang KITA! Sialan! Apa yang ada dalam pikiran mereka? Dan apa yang ada dalam pikiran Anda, Saya, Kita? Bodoh sekali!

Rakyat!
Tidak perlu menjadi sosialis untuk menjadi berani, tidak perlu menjadi komunis untuk berani, taidak perlu jadi Teroris untuk berani, tidak perlu jadi kanan! tidak pelu jadi kiri! Jadilah dirimu sendiri, lalu berkacalah di depan cermin! sudah merdekakah Anda, Kita?! Apa yang membuat kita berpikir merdeka, ketika kita kesulitan membayar sekolah anak-anak kita, ketika kita melihat perguruan tinggi hanya untuk memantapkan kelas borjuis semata? ketika kita melihat susahnya membeli beras dengan kualitas baik untuk anak-anak kita? ketika kita tak bisa di layani di rumah sakit karena tk punya uang dan jaminan asuransi? ketika kita menghina-hina diri mengantri zakat dan saling injak dengan sesama kawan yang sama-sama terhina?

Rakyat!
Cobalah tengok para sialan itu? yang gagah dengan mobil mewah hasil merampok BLBI kemarin dulu, yang rumahnya megah hasil kongkalikong proyek negara, yang bajunya necis hasil nyeip uang pajak! Sialan! sementara kita masih menangis melihat anak-anak tidur di kolong jembatan, tidur di pinggir kaleng-kaleng recehan di pinggir jalan, anak-anak kita yang meratap sekedar makan, sekedar minum? Sialan!

Rakyat!
Pajak yang kita bayar, untuk apa? wakaf tanah kita untuk membangun jalan, untuk apa? hibah, zakat dan segala omong kosong berkedok agama, untuk apa? untuk mereka para sialan? Kenapa kita mesti berkorban untuk orang yang bukan anak-anak kita, bukan saudara kita, bahkan untuk orang yang ketemu pun tidak pernah! untuk apa? untuk mendzalimi anak-anak kita? untuk sekedar ucapan "selamat anda pahlawan bangsa"? untuk apa?

Rakyat!
Bangkitlah dengan kaki hebatmu itu! Bangkitlah dengan bangga! dengan hormat! Bangkitlah dengan teriakan "AKULAH RAKYAT, TUHAN NEGERI INI, JIKA AKU BERKATA KAMU JADI PEMIMPIN, MAKA JADILAH PEMIMPIN YANG SERIUS! JANGAN SETENGAH-SETENGAH! JANGAN ASAL PERUTMU TERPENUHI.. ATAU KU CABUT NYAWAMU! KARENA AKULAH RAKYAT! TUHANMU!"

Rakyat!
Merdekalah!
MERDEKA!

Melamun Membantu Pak SBY


Pagi ini rencanaku meneruskan riset menyusur benang kusut yang membuat pemeritah bingung bertahun tahun. Hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan: kenapa daya serap anggaran kita di kuartal pertama selalu berkinerja buruk. Yang lucu sebenarnya adalah tak cukup penelitian membuktikan bahwa daya serap anggaran bisa berefek buruk pada perekonomian kita sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah negara. Maka mulailah hari-hari kemarin aku menyusur setiap data, memastikan bahwa daya serap ini merupakan hal penting untuk di perbincangkan. Bukan apa-apa, setelah di cek hal ini ternyata sudah jadi "catur" sejak 2005. Dimana pada tahun 2006 BPK mengajukan keberatan dan pertanyaan: kenapa itu terjadi (BPK menyelidiki apakah mungkin ada penyimpangan/ korupsi.. kira-kira begitulah analisa LKPP BPK.
Pagi ini saya ketawa saja. kalau memang sepenting itu, kenapa tidak dipecahkan? sampai-sampai saya lihat Presiden SBY mengeluhkan hal ini berurut-turut 3 x  April! Kan kasihan Pak SBY, sepertinya cuma bicara sama tembok? apakah sedemikian rendah apresiasi aparatur negara terhadap pak SBY.
Secara sederhana sebenarnya bisa kita ilustrassikan. Anak saya minta uang saku untuk keperluan bekal sekolah. Setelah di hitung dia bilang butuh 15 ribu rupiah. Wah.. ayah cuma punya uang 10 ribu rupiah.. yah sudah nanti ayah pinjam uang ke tetangga. Dan dikasih lah ia uang 15 ribu rupiah. Sepulang sekolah saya tanya: "uantganya sudah habis nak? dia pun menjawab"tidak yah, masih sisa 4000 rupiah, ade bingung mau dipakai apa
Dari ilustrasi sederhana tadi sebagai seorang ayah maka kita bisa menarik kesimpulan sederhana
  1. Si anak melakukan kesalahan perencanaan kebutuhan uang di sekolah, yang ternyata tidak sebesar yang ia kira. maka sang ayah memutuskan mulai besok uang sakunya di kurangi dan sang ayah tak perlu lagi meminja uang terlalu besar pada para tetangga.
  2. Si anak memang kebingungan karena ketika memberikan uang sang ayah bilang "nanti uangnya jangan dibelikan jajanan yang tidak-tidak ya.. kalo beli baso jangan yang mahal yang 500 rupiah saja" ternyata si anak memang bingung "apa maksudnya jajanan yang tidak-tidak itu?" dan si anak juga bingung beli baso di sekolahnya biasa 550 rupiah permangkok. maka sang ayah memutuskan "oooohhhh lain kali aku akan mebuat aturan yang lebih jelas, yang terukur atas semua jenis barang dan jasa yang boleh dan tidak boleh dibeli. dan akan aku buat aturan alternatif jika harga barang dan jasa yg ditetapkan tidak sesuai ketentuan berapa range yang diijinkan dan bagai mana jika diluar itu apakah sang anak boleh sms ayahnya minta pertimbangan. sang ayah paham sekarang.. sang anak memang kebingungan membelanjakan uangnya karena sebagai anak yang berbakti dia takut salah dan nanti malah di marahi ayahnya.
Pagi ini saya mangut-mangut sendiri.. ternyata aturanlah yang membuat daya serap anggaran bermasalah dan jika daya serap rendah maka sia-sia minjam uang ke orang lain bayangkan bunga? capenya kukurusukan ngamparh pinjem uang? sayang sekali rencana yg sudah di bayangkan kalo beli ini dan itu tidak jadi? apa efek dominonya?. wah.. ini baru sampai situ. belum pada apa akibat yang lebih luas dari sekedar itu?
Ternyata merenung di pagi hari lumayan bermanfaat. bahkan untuk sekedar memahami Ekonomi Makro dari sudut Manajemen Waktu pada Keuangan Negara. hmmmm

Sabtu, 12 Januari 2013

SURAT TERBUKA UNTUK BUNG ARRY


di komentar Foto yang ditampilkan Dr. Bambang Sumintono, (Dosen Universitas Teknologi Malaysia) saya membaca komentar Bung Arry : Arry Akosah dgn study hard ... pastas mrk lebih maju dp kita, dan manusia nya tiap hari nggak ngomongin SARA melulu, saling memfitnah dll. Kalau di Ind mentalitas nya msh spt itu... ya siap jalan ditempat saja sampai akhir jaman.....This is just my personal opinion though....
4 jam yang lalu · Suka

di Indonesia sebelah mana bung @Arry Akosah?
disebelah mana yang Indonesia lebih mundur dari mereka? disemua sisi kah?
disebelah mana di Indonesia yang ngomongin SARA melulu? di semua wilayah NKRI kah?
disebalah mana di Indonesia yang saling memfitnah? apakah semua orang Indonesia?

Saya sudah lama menjadi Bangsa Indonesia, sudah 36 tahun! dan saya bangga dengan begitu banyak orang Indonesia yang hebat-hebat dengan begitu banyak penemuan baru, kreatifitas baru, keahlian baru dan banyak kebaruan lain. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia yang hebat-hebat itu diminta bekerja oleh banyak perusahaan Asing, untuk bekerja pada mereka. Karena mereka membutuhkan kehebatan, keahlian dan kemajuan saudara-saudara kita yang Indonesia Itu! lihatlah berapa banyak ahli-ahli kita yang bekerja di perusahaan Malaysia, bekerja di universitas-universitas Malaysia, di pemerintahan Malaysia? kenapa itu terjadi? karena kita punya cukup banyak stok orang hebat, orang ahli, orang yang menawarkan kemajuan dan kebaruan ilmu pengetahuan. Kita kaya sekali dengan orang-orang hebat ini BUNG ARRY!

Saya sudah lama menjadi Bangsa Indonesia, sudah 36 tahun! dan saya bangga dengan begitu banyak orang Indonesia yang begitu santun bersahabat, bermasyarakat, bernegara dengan santun yang kita bangga-banggakan itu. Coba BUNG ARRY hitung, bangsa Indonesia itu terdiri dari bangsa Arab, Bangsa India, Bangsa Pakistan, Bangsa Cina, Bangsa Eropa, yang lahir dan hidup di Indonesia dan berdampingan dengan damai dengan Bangsa Indonesia Asli yang terdiri dari ratusan suku bangsa, dan ribuan sub suku bangsa. coba BUNG ARRY bayangkan, kita bangsa Indonesia yang saling bercakap-cakap dengan ratusan bahasa daerah yang tak saling sama, yang semuanya hidup dan unik. Tapi kita Bangsa Indonesia bisa saling berkomunikasi dengan paham?! apakah tidak hebat? Negara mana yang setara dengan keragaman kita sebagai bangsa? saya jamin tidak ada, pun begitu Amerika Serikat! mereka hanya terdiri dari sedikit bangsa dan suku, Kita bisa ratusan BUNG! bahkan hebatnya kita dipisahkan dengan ribuan pulau! tapi kita malah bangga menyebutnya kita Bangsa Indonesia yang disatukan oleh ribuan pulau dan laut! BUKAN DIPISAHKAN!

Saya sudah lama menjadi Bangsa Indonesia, sudah 36 tahun! dan saya bangga dengan begitu banyak orang Indonesia yang saling mengingatkan, saling meluruskan menjadi orang baik-baik. Coba kita lihat di media kita, betapa banyak masyarakat Indonesia yang saling mengingatkan dengan baik, lihatlah kita saling terbuka dengan semangat menjadi bangsa yang lebih hebat, saling mengiungatkan lalu jika kita salah akan ucapan kita, lalu kita saling memaafkan walau kadang harus di mediasi oleh pengadilan. Di NKRI yang mana yang saling fitnah itu?

Saya sudah lama menjadi Bangsa Indonesia, sudah 36 tahun! dan saya bangga menjadi Bangsa Indonesia! jika ada kekurangan disana-sini, itu lumrah BUNG! itu hanya riak-riak kecil dalam usaha-usaha keras kita berbangsa dan bernegara, itu hanyalah gelombang yang maha kecil di bandingkan dengan besarnya bangsa kita. Tugas kita sebagai bangsa Indonesia adalah menumbuhkan kebanggaan itu! Nasionalisme bukan lah isme omong kosong! isme inilah jalan kita untuk tetap maju, untuk tetap ingin maju!

Bung! jangan lah bung menjelekkan bangsa sendiri, jika bung tak berkontribusi untuk memperbaikinya. Ingat bung! buruknya sistem yang kita punya bukan lah satu-satunya sistem dan unik. Hakikatnya semua bangsa itu sedang tumbuh dan berusaha memperbaiki diri. Kalaulah kita sebagai bangsa buruk, itu karena kita juga?! bukankah sistem dibentuk oleh demokrasi yang kita bangun? dan bukankah setiap kita berkontribusi dalam setiap pemilu? jika demokrasi yang kita agungkan membuat ide-ide kita terpinggirkan, ya salah sendiri! kenapa tidak berusaha lebih keras! membangun lebih keras! berjuang lebih keras! tidak lantas cengeng dan kemayu ribut menyalahkan orang lain? Jika kita merasa ada yang salah, BANGUN! AYO KITA PERBAIKI DENGAN TANGAN KITA SENDIRI, BIAR BANGGA ANAK- CUCU KITA NANTI. LALU MEREKA AKAN BERKATA DENGAN BANGGA: ITULAH KAKEK DAN MOYANGKU YANG BERJUANG UNTUK BANGSA DAN NEGERINYA, SAMPAI DIA LUPA UNTUK BERJUANG UNTUK DIRINYA SENDIRI!

TABIK!
Abah.Dr-

Rabu, 23 Februari 2011

Inilah Negeriku: Indonesia

setiap kali saya mendengar lagu
.... tanah air ku tidak kulupakan
kan ku kenang sepanjang hidupku
walaupun aku pergi jauh
tak akan hilang dari kalbu..
setiap kali juga kemudian saya menjadi bertanya-tanya seberapa Indonesia kah saya. dan bagai mana saya mesti mematok indikator yang valid atas ke-Indonesiaan saya? Apakah nasionalisme itu sebenarnya? kata Bung karno “ Tetapi….. tetapi… memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya ! Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berpaham…. Indonesia Uber Alles “. Inilah bahayanya ! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja daripada dunia ! Ingatlah akan hal ini !. “
seperti apa sebenarnya penghargaan kita pada ke Indonesiaan kita? dalam memandang diri kita di dunia internasional?

Agak terhenyak saya beberapa waktu yang lalu melihat berita di TV One. bagai mana tidak seorang bugis di wawancara mengenai ke Indonesiaannya, dia menjawab " Indonesia adalah Ibu pertiwiku dan Malaysia adalah Bapak pertiwiku, karena Indonesia lah yang melahirkanku tapi terus terang Malaysia lah yang memberiku makan" mendengar ini saya merasa sedih.. (terus terang saya menangis mencucurkan air mata (kadang sepertinya tak layak disebut laki-laki)) apalah hendak dikata. Bumi Pertiwi memang belum mampu mensejahterakan banyak orang, bagaimana tidak.. itulah kesalahan kita, menasbihkan masa depan kita kebanyakan pada para bedebah!
... ku lihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang
mas intannya terkenang...
bagai mana tidak, kekayaan alam kita sudah hampir habis terkuras.. TAPI TIDAK UNTUK RAKYAT! TIDAK UNTUK ANDA, TIDAK UNTUK SAYA, TIDAK UNTUK ANAK-ANAK KITA! sialan!Mungkin kalau Bung Karno masih hidup dia akan menangis tersedu-sedu ingat pidatonya...
" Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara ,, semua buat semua “, ,, satu buat semua, semua buat satu."
Sebagai orang Indonesia yang sedang marah, saya ingin bilang pada setiap engkau para cecunguk, tikus got:
"kau itu kecil, sangat kecil, bahkan terlalu kecil! untuk memonyong-monyong bibir bahwa kau bilang kau adalah rakyat Indonesia! kau tak lebih dari perutmu semata!"

apa perlu kita bersedih terus melihat bangsa ini, tentu tidak! ayo bangsaku, tak hanya aku, tak hanya engkau, apalagi tak hanya mereka yang sanggup berkata "aku lah rakyat, dan aku akan bekerja sekeras-kerasnya untuk bangsaku" kalaulah mereka yang penuh kebohongan itu sanggup berteriak begitu, kenapa anda yang memang tulus, tak mampu?!

kita mampu, bangsaku! kita mampu! jangan mau di bodohi, kita bahkan sangat mampu berbuat banyak untuk negeri ini! jangan cengeng! ayo hantam setiap halangan, kenapa mesti cengeng? setiap kemenangan yang kita raih dengan kerja keras, dengan segenap jiwa.. tentu berbeda .. ya berbeda rasaya ketika berdiri di puncak dan berkata " ini lah aku, rakyat yang berbakti buat bangsaku!"

mulailah berancang-ancang, jangan melangkah terlalu jauh.. nanti malah tergelincir.. buatlah langkah pertamamu sejauh seribu lautan.. cukuplah itu buat bangsamu! mulailah berancang-ancang, jangan berhayal melompat terlalu tinggi.. nanti sakit ketika jatuh.. buatlah langkah pertamamu se tinggi langit kau sanggup melihat.. cukuplah itu buat bangsamu!

jangan cengeng, ayo bangun, banyak yang harus kita kerjakan esok.. tidurlah yang nyenyak Indonesia ku.. Besok! ada sejuta sekolah yang mesti kita bangun, ada sejuta buku yang mesti kita tulis, ada sejuta ilmu yang mesti kita kejar .. lalu ada sejuta gedung mesti kita bangun, ada sejuta bendungan, ada sejuta galangan, ada sejuta maskapai, ada sejuta sawah, ada sejuta kebun, ada sejuta penelitian, ada sejuta mesin, ada sejuta apapun yang engkau mampu bangun buat bangsa ini, sudah lah.. jangan mengandalkan orang lain.. jadilah sejuta itu karyamu.. biar bangga anak-cucumu kelak "ITULAH AYAH-IBUKU-KAKEK-NENEKKU.. YANG BERBAKTI BUAT BANGSANYA SAMPAI IA LUPA BAHWA IA SENDIRI ADA!"