Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Kenapa sulit sekali dan hanya berakhir, Sayangnya?

Kenapa sulit sekali menjelaskannya padamu? tentang begitu mudahnya memahami kesederhanaan? tentang aku dan pilihan cara berpikirku?

Takkah kau punya sedikit waktu
sekedipan matapun rasanya cukup
untuk sekedar memahami satu dua tiga empat kata yang berulang kusampaikan padamu?

Kenapa sulit sekali menjelaskannya padamu? tentang begitu mudahnya memahami kesederhanaan? tentang aku dan pilihan cara berpikirku?

Takkah kau punya sedikit perasaan
sesudut hatimupun rasanya masih terlalu luas
untuk sekedar memahami empat lima enam tujuh argumen yang berulang kusampaikan padamu?

Kenapa sulit sekali menjelaskannya padamu? tentang begitu mudahnya memahami kesederhanaan? tentang aku dan pilihan cara berpikirku?

Sayangnya
pujianku berbeda jalan

cam kan baik baik dalam ingatanmu
kekasih hebatmu adalah pengkritik terhebatmu
kekasih yang akan menyesatkanmu adalah penyanjung terbesarmu

Sayangnya
inilah jalanku mencintaimu

mendorongmu semakin hebat
memaksamu semakin besar

Sayangnya
seringkali kau mengadu padaku

Betapa muak kau tiap hari aku ingatkan
engkau yang kucintai itu



Sayangnya
rasanya
kau memang tak berniat paham

Gate II: Memasuki Duniamu

Pelan
Menunduk berjam-jam
Memenuhi kepala dengan hakikat yang kau pahami

Pelan
Menengadah sedikit-sedikit
Melirik disudut itu

Pelan
Sepintas lalu
Ada yang membuat demarkasi serasa begitu lebar
Entahlah
Kita memang tak mungkin menduplikasi habitat kita dinegeri orang
Alangkah pongahnya?
Mungkin itulah warna yang nyata itu

Gate II: Palsu

Palsu memalsu malsu
Tertawa tanpa makna
Tersenyum tanpa ruh
Memuji tanpa hati
Memuja tanpa doa

Sayangnya
Itulah kita yang mayoritas itu
Terkooptasi komunitas yang kita ciptakan sendiri
Saling menerima
Saling memberi
Saling memahami antara kita
Bahwa tuhan adalah realitas berbagi keuntungan semata

Gate II: Memahamimu

Jujur saja
Kita sering kali tak hendak jujur
Jarang diantara kita berharap memdengarkan kejujuran

Lajimnya. Kita hanya mau mendengar
Apa yang ingin kita dengar
Apa yang kita harap kita dengar

Padahal, sayup
Mungkin terbersit dalam jiwa
Rindu mendengar tawa yang jujur
Rindu melihat senyum yanh jujur
Rindu pada jujur

Melayang

Berkabut
Melayang terantuk antuk

Jalan tak lurus lagi
Ada yang salah

Sialan
Siapa membangun jalan begini buruk?
Padahal sudah susah berpikir memilih langkah

Berbisik
Sama tak mempannya bagimu

Mungkin kelak
Ketika namaku hanya kau ingat dari sedikit yang tersisa

Oh ya
Dia?

Setidaknya
Aku masih berbisik
Dalam nada yang sama

Hahahaha
Padahal
Aku juga tahu
Kau tak lagi punya telinga

Mungkin kau lupa
Atau?

Dharmtla

Langit rasanya terus berdebu, tak perduli aku berkelok kemana.
Sepanjang I.N.A ku teruskan ke dilii haat kalau perlu pergi lalu pulang berulang melalui sarojini sampai ke ujung old kalau perlu. Mencari yang kadang itu itu lagi.
Menyenangkan semua orang?
Mana mungkin, lucunya
Jika akhirnya
Hanya sekedar belum selesai
Atau bahkan belum sampai
Menyampaikannya sampai menjejal kedalam hatimu itu

Kadang bingung juga
Ditengah langit yang tak pernah biru ini
Bagaimana bisa?

Pikiran ku bertumpuk tak tentu arah
Ditengah putihnya marmer, merah abu dan berjuta warna kelam masa lalu ini
Rasanya sama kontradiktifnya dengan kesibukan dan denging suara klakson dikepalaku

Sayangnya
Semua tak selesai
Atau lucunya
Semua tak sempat sampai

Rabu, 10 September 2014

Reset

Mungkin kita telah lama lupa
bahwa tujuan kita sejatinya
adalah
menahan diri
dan
melupakan

Mungkin kita sepatutnya malu
memaksa hampir sepanjang hidup

Memalukan

Firman Ku: Tuhan dari Neraka

Aku perintahkan kepadamu
kamarilah
biar Ku peluk kau tidak dalam cinta yang itu - itu saja
berlama - lama
memuja - muja
mencapai gnosis

Aku firmankan kepadamu
kemarilah
masukkan Aku ke dalam rahimmu
agar Ku kenang asal - usulku
dari engkau Aku berasal
dan kepadamu Aku ingin kembali
merasakan kehangatan sabagai bagian dari tubuh mu perempuan Ku

Aku pastikan kepadamu
kemarilah
berdoa padaku saat puncakmu
menari - nari
ekstasi!
memahami Aku
mencumbu Tuhanmu
sampai kau lupa kau telah menjadi tuhanKu
lalu senyap
tak pasti antara lelah dan kesenangan yang memuncak
Firman Ku
berhentilah sebelum puncakmu
atau
kau tersadar
dan lupa
telah berakhir di rumah Ku
Neraka

Mengajarimu Statistika Matematis = Mengajarimu Keteraturan

pro: murid muridku tercinta


Kekacauan membuatku sakit
Membayangkan ketidakhormatan orang pada harmoni
       pada keteraturan
Kenapa orang tak mudah memahami seni?
Keteraturan bukanlah keseragaman mutlak
yang menggerakkan robot tanpa hati, tanpa jiwa

Mengganggu keteraturan hanyalah menghasilkan
       para pecundang yang bangga atas perbedaan semu yang dimilikinya

Andai saja kalian paham
dalam model alamiah Tuhan
keberbedaan hebat adalah
       zenit yang memuncaki
       atau titik R disetiap kurva
Outliner hanyalah pecundang buta
yang lupa membedakan
bahwa setiap perbedaan terkungkung oleh standar

Tetapi
Sayang sekali
Kalian seringkali lupa

Bahwa
Untuk menjaga harmoni
Kita seringkali terjerembab
Dalam seragam yang sama
Nada monotone yang mendengung dan membuat kita gila!

Padahal
Ketika kita menjadi identik
Validitas kita hancur dalam ke-takterdifinisi-an
Kita tak lagi diakui sebagai bagian dari system?
Yang membuat kita layak untuk dieliminasi
         dalam sebuah trimming yang dengan kejam
Menyingkirkan seluruh jerih payah...

Ujung Jalan

Menatapmu berlama-lama, mencari pilihan-pilihan.

Dan, huff
Kita sampai di ujung jalan.

Lalu mati dengan menyesal
Kenapa kemarin tak hidup?

Mencarimu:

Dalam berapa siang ini kusempatkan lagi mencarimu. Disudut-sudut waktu. Disela-sela jemari. Berharap mungkin sekali ini kau terselip disalah satunya. Hari jelas belum begitu sore, jadi tak mungkin keberadaanmu sulit terpasti. Tapi, entah kenapa, kali ini tak juga kutemui kau disemua titik yang paling mungkin.
Dalam berapa siang ini kusempatkan lagi mencarimu. Entah kenapa kau menjadi lebih penting dari apapun itu. Jangankan sekedar makanan atau mungkin minuman yang biasa kau reguk juga. Udara, mungkin kalah penting kali ini.
Pikiranku penuh sesak dengan mereka, kita dan entah bertumpuk dalam berbagai kata ganti yang pernah ku kenal. Berdesakkan berusaha masuk dalam sel otakku. Berkecamuk. Saling berperang berebut pengaruh. Memukul, saling tendang, mencekik dan apapun itu untuk menguasai jiwaku. Mengambil alih tubuh rentaku, mengaku-aku, menjadikanku mereka. Mewakili tak saja jasad, tapi ruh!
Tubuhku limbung dengan berjuta bisikkan ditelingaku. Menyuruhku melakukan ini dan itu. Mengatur langkah kakiku kearah yang tak pernah kupaham betul. Berkali aku menghirup udara, padahal dadaku penuh! Entah dimana lagi udara mesti kutaruh. Paru-paru semakin kembung, memanas, mengembang, menunggu meledak tak mampu lagi menampung udara yang terus dilesakkan.
Rasanya gila,..
Mencarimu, akhirnya,..
Sulitnya minta ampun,..
Padahal, untuk menjadi gila, rasanya agak takut. Apakah aku mampu? Itupun kalau gila memang mesti jadi pilihan. Padahal, yang ku tahu. Dalam berapa hari ini, aku tak lagi merasa punya pilihan. Terkadang terbersit, kalaupun ada pilihan,.. apakah aku sanggup memilih.
Dahulu, aku percaya betul. Taklah ada yang layak kupercaya. Bahkan diriku sendiri. Kalau lah ya ia layak ku percaya: kenapa ia biarkan aku jatuh makin jauh?
Untunglah, aku masih cukup beriman. Untuk tak menjadi gila, atau bahkan konyol bunuh diri. Untunglah, aku cukup malu untuk menjadi orang gila. Dan, aku cukup takut untuk memilih bunuh diri.
Biarlah, setidaknya,.. ditempatku kini,.. aku menjadi manusia yang merdeka. Bebas untuk membiarkan pikiranku mengangkasa jauh. Tak sekedar merasuk langit. Tapi merambah jauh kedalam hati mu, hati engkau. ( itupun jika kau masih punya hati )


Cisarua. Januari, 2015. Dalam kamarku yang damai, menghirup udara paling menenangkan yang pernah aku tahu.

Jihad!

Dosa bertumpuk
berjejal hutang tak mungkin terbayar

Dor!
hutangpun lunas?

Kalau begitu
baiklah

Kemana aku mesti bersegera?

atau

Mesti kutelan saja?
menjadi banci berselimut sembunyi?

atau

Ssssttt...
Dor!
tak ada yang tahu?

menjadi pengecut?
ataukah benar strategi?

kenapa mesti malu?
ataukah benar kita tak yakin?

atau?

Minggu, 12 Mei 2013

Kematian Mu


Demi malaikat-malaikat yang mencabut  nyawa  dengan  keras
apakah tak bisa kau datang padaku dengan lemah lembut (QS  An-Nazi'at  [79]:  1-2)
dan berikan aku kabar gembira tentang waktuku (QS Fushshilat (41): 30)

Demi malaikat-malaikat yang mencabut  nyawa  dengan  keras
jangan lah kau datang menakutiku (QS Al-An'am [6]: 93)
apalagi kau datang menyiksaku (QS Al-Anfal [8]: 50)
hus
hus
pergi kalian!
ini belum lagi masaku! (QS Ali  'Imran [3]: 183)

يا الملائكة أن رفع الروح مع لطيف
aku hanya ingin tidur
dan bangun lagi (QS Surat Al-Zumar (39): 42)

Aku tak minta abadi
tapi tunggulah barang sekejap (QS Al-Anbiya' [21]: 34)

يا الملائكة أن رفع الروح مع لطيف
kalaulah tiba masaku
ya sudah..
datang saja..

Doa ku


Jika ش adalah aku
Jika م adalah aku
Jika ك adalah aku
و
و
و
jangan pernah لا
kalau perlu ف
walau bukan berarti aku tak mau ة
aku berharap kemudian ل  aku
amin

Sunyi


dari susan, dari stella, dari sampson, dari rosa, dari ravi, dari semua yang di tulis atasmu
bahkan dari annegrit sampai vera

mengering tanpa udara
membuatku bisu
suaraku tak sampai padamu

karena tanpa udara
akulah bisu

Menghimpun Diri


akhirnya paham sudah aku
setelah terantuk terhuyung di penghujung semesta
sampai juga aku di tanda seru
Akulah Tuhan yang maha itu ternyata!
karena ke mahaanku itulah aku akhirnya terselip di ujung
bagai mana tidak?
tak mungkin aku bersama kau, kau, kau dan kalian
karena akulah maha itu
Akulah yang satu dan tak mendua
tak beranak, tak bersaudara, tak beristri
karena aku berotasi pada diriku sendiri
jelaslah aku kepada setiap engkau
akulah Tuhan
yang sendiri
akulah Tuhan
yang rindu menjadi manusia
karena akulah Tuhan itu...

Berbisik Kepadamu


kata ibuku dulu
kita tak butuh dekat untuk sekedar berbicara
berbisiklah padaku
lalu yakin lah.. aku sedang mendengarmu
karena aku mencintaimu
..

kata ibuku dulu
kita tak butuh berpelukan hanya untuk sekedar rindu
berbisiklah padaku
lalu yakinlah.. aku sedang memelukmu
karena aku mencintaimu
..
kata ibuku dulu
kita tak butuh memuja untuk sekedar memuji
berbisiklah padaku
lalu yakinlah.. aku sedang memujamu
karena aku mencintaimu
..
berbisiklah padaku
lalu yakinlah.. aku sedang mencintaimu
...
(aku hampir tiba di okeanos.. lalu ingat harus berbisik padamu.. M-u...)

Obati


Sainte vierge, priez pour moi!
obati
sembuhlah
sehatku
Aku lelah menjadi pendosa itu

Jika aku terlanjur mati?
Morte la bete, morte le venin?

Mabuk


Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk terhadap pilihan hidupnya. Ketika kita mencoba untuk memfokuskan diri pada pilihan yang kita yakini kebenarannya, pada pilihan yang kita yakini kemestiannya. Maka pada saat yang sama sebenarnya kita telah kehilangan fokus. Sebab, pada saat kita berusaha mencari pembenaran, argumentasi, dasar-dasar yang valid atas seluruh tindakan kita, maka pada saat yang sama, kita sedang membebaskan diri, membebaskan pikiran, membebaskan jiwa, membebaskan hati untuk menerawang bahkan jauh dari harapan kita sendiri. Tetapi keterbebasan itu lah hakikat dari berpikir, keterbebasan itu lah yang akan membuat kita, mengantarkan kita pada banyak kesimpulan-kesimpulan. Walaupun karena keterbebasan itu membuat kita mengambil kesimpulan yang jauh dari batasan yang telah kita buat. Dalam keadaan menerawang jauh itulah kita kemudian mendapati kita singgah di negeri-negeri asing yang sering menjadi dongeng pengantar tidur kita. Negeri yang tidak ada kesedihan, tidak ada tangis.. di setiap akhir cerita. Negeri yang kita bayangkan sebagai.. itulah akhir kita.. bahagia di akhir perjalanan.

Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk terhadap mimpi dan khayalan masa depannya. Ketika kita terdampar di negeri-negeri asing, ketika kita mencari-cari semua jawaban, ketika kita mencari-cari sejuta pembenaran. Kita kemudian seringkali tersesat oleh baju yang di pakaikan orang untuk kita. Memalsu diri, memalsu jiwa, memalsu hati.. hanya sekedar untuk menyenangkan orang lain. Tetapi di mana hakikat kita? Di mana hakikat kita; aku dan kau, sebagai individu yang memiliki kesenangan, kebahagiaan dalam bentuknya sendiri? Apakah menyenangkan orang lain, lalu menisbikan kesenangan dan kebahagiaan pribadi adalah bentuk dari kebahagiaan? Kenapa kita harus terbelenggu pada kesenangan dan kebahagiaan orang lain? Bukankah kita merdeka untuk menjadi diri kita sendiri dalam bentuk dan gayanya sendiri? Alangkah menyedihkan, mereka yang terperangkap dalam tubuh dan jiwa yang bukan dirinya sendiri? Alangkah menyedihkan...

Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk terhadap ketersesastan dirinya dalam tubuh yang bukan tubuhnya. Ketika akhirnya kesadaran datang.. hidup sudah jauh dari terlambat.. hidup sudah lagi berakhir.. hidup sudah tak memiliki koma lagi sebagai amunisi. Inilah titik itu akhirnya.. Ketika penyesalan itu datang, ketika akhir itu telah tiba. Dan dikapanilah kita dalam nisan yang di tatah dengan nama yang bukan kita, karena bukan tubuh kita yang berbaring di situ.. Hanya raga.. ya.. hanya raga dan penyesalannya.

Setiap orang sepertinya memang sedang mabuk:

Namaku Rindu

Namaku rindu
sejak lahir orang biasa memanggilku begitu
tuan yang melahirkanku pernah berbisik pada kalbu sang nyonya
rinduku.. aku lah yang selalu menjadi engkau
tak perlu memasti mengintip ngintip
tak perlu bertanya yang kau telah tahu
sebab aku lah rindu yang akan selalu memenuhimu
akulah rindu cintaku terkasih..

Namaku rindu
aku biasa memperkenalkan diriku begitu
kata tuan aku lahir dari jiwanya yang menghamba kemarau kemarin dulu
rinduku.. akulah cawan yang selalu kau penuhi
tak perlu kau tambah rasa yang tak perlu
tak perlu kau tambah hati yang tak perlu
sebab akulah rindu yang akan selalu menghangatimu
akulah rindu yang kau beku..

Namaku rindu
kata tuanku aku dititipkan padamu yang merasuki hatinya
kata tuanku jangan sampai kau bunuh aku
kata tuanku; namaku memang rindu,,,