Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk terhadap
pilihan hidupnya. Ketika kita mencoba untuk memfokuskan diri pada
pilihan yang kita yakini kebenarannya, pada pilihan yang kita yakini
kemestiannya. Maka pada saat yang sama sebenarnya kita telah kehilangan
fokus. Sebab, pada saat kita berusaha mencari pembenaran, argumentasi,
dasar-dasar yang valid atas seluruh tindakan kita, maka pada saat yang
sama, kita sedang membebaskan diri, membebaskan pikiran, membebaskan
jiwa, membebaskan hati untuk menerawang bahkan jauh dari harapan kita
sendiri. Tetapi keterbebasan itu lah hakikat dari berpikir, keterbebasan
itu lah yang akan membuat kita, mengantarkan kita pada banyak
kesimpulan-kesimpulan. Walaupun karena keterbebasan itu membuat kita
mengambil kesimpulan yang jauh dari batasan yang telah kita buat. Dalam
keadaan menerawang jauh itulah kita kemudian mendapati kita singgah di
negeri-negeri asing yang sering menjadi dongeng pengantar tidur kita.
Negeri yang tidak ada kesedihan, tidak ada tangis.. di setiap akhir
cerita. Negeri yang kita bayangkan sebagai.. itulah akhir kita.. bahagia
di akhir perjalanan.
Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk
terhadap mimpi dan khayalan masa depannya. Ketika kita terdampar di
negeri-negeri asing, ketika kita mencari-cari semua jawaban, ketika kita
mencari-cari sejuta pembenaran. Kita kemudian seringkali tersesat oleh
baju yang di pakaikan orang untuk kita. Memalsu diri, memalsu jiwa,
memalsu hati.. hanya sekedar untuk menyenangkan orang lain. Tetapi di
mana hakikat kita? Di mana hakikat kita; aku dan kau, sebagai individu
yang memiliki kesenangan, kebahagiaan dalam bentuknya sendiri? Apakah
menyenangkan orang lain, lalu menisbikan kesenangan dan kebahagiaan
pribadi adalah bentuk dari kebahagiaan? Kenapa kita harus terbelenggu
pada kesenangan dan kebahagiaan orang lain? Bukankah kita merdeka untuk
menjadi diri kita sendiri dalam bentuk dan gayanya sendiri? Alangkah
menyedihkan, mereka yang terperangkap dalam tubuh dan jiwa yang bukan
dirinya sendiri? Alangkah menyedihkan...
Setiap orang hakikatnya sedang mabuk:
Mabuk
terhadap ketersesastan dirinya dalam tubuh yang bukan tubuhnya. Ketika
akhirnya kesadaran datang.. hidup sudah jauh dari terlambat.. hidup
sudah lagi berakhir.. hidup sudah tak memiliki koma lagi sebagai
amunisi. Inilah titik itu akhirnya.. Ketika penyesalan itu datang,
ketika akhir itu telah tiba. Dan dikapanilah kita dalam nisan yang di
tatah dengan nama yang bukan kita, karena bukan tubuh kita yang
berbaring di situ.. Hanya raga.. ya.. hanya raga dan penyesalannya.
Setiap orang sepertinya memang sedang mabuk: