Selasa, 17 Agustus 2010

Remunerasi di Kementerian Agama

Belajar dari K/L yang sudah remunerasi kira kira ya seginilah tunjangan penghasilan tambahan PNS Kementerian Agama nanti, kalau ngikut metodenya MA ya mungkin 80%-70% dulu. kalo lagi sial... ya lumayan lah temen mimpi sambil nunggu buka puasa. haha


Inilah departemen yang telah melaksanakan 100 % remunerasi. Pelaksanaan remunerasi di Depkeu menjadi dasar bagi departemen lain untuk melaksanakan program serupa. Pemberian tunjangan kinerja di Depkeu mulai diterapkan tahun 2007 dengan label TKPKN (Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara) berdasarkan Kepmenkeu No. 289/KMK.01/02007.

Berikut tabelnya:

jadi kalo liat tabel ini seh.. dengan gol/pangkat/ruang II/b saya.. berarti saya dapet Rp. 2.360.000,- diluar gaji yang selama ini diterima. kalau gaji selama ini ga bisa diotak atik lagi gara gara sudah masuk anggaran istri.. berarti uang 2,36 jt lumayan lah buat modal nerusin sekolah. kalo nerusin di UNPAD program S3 Doktor Ilmu Ekonomi, konsentrasi Manajemen Keuangan Negara.. wah nombok banyak kayanya.. SPPnya kan 20jt hehe ngayal 1000% deh..
kalo buat di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia S3 Doktor Pendidikan, Ilmu Administrasi konsentrasi Kebijakan Pendidikan.. kayanya lebih realistis ya..? SPPnya kan cuma 10Jt.. jadi cukuplah.. soal yang kemaren-kemaren mah biarin aj lah itung itung cari pengalaman plus.
walau pendidikan saya sementara ini cuma jadi bahan lelucon dan cemoohan, peduli amat ah.. walau ga lazim orang dengan gol II/b dengan gelar Doktor.. toh ga ngaruh juga.. cara pandang orang tentang pendidikan itu persoalan lain. ambil contoh Dr. Sucipto ahli pindai handal Indonesia yang karyanya dipakai NASA.. liat aja dia.. sekolah Doktoral sampe ke Jepang. trus jadi ahli pindai yang mumpuni.. tapi lihat rumahnya di tanggerang.. kantornya, yang cuma ruko..?
kita, sebagai bangsa, emang belum cukup mampu menghargai pengetahuan orang. lihat contoh kasus Dr. Sri Mulyani yang hengkang ke Bank Dunia.. masih inget seorang prof dari Amerika yang orang Indonesia lulusan olimpiade fisika? atau contoh lama Dr. BJ. Habibie beserta anak anaknya..
tapi bukan berarti kita mesti patah arang. apa yang bisa kita ajarkan pada anak anak kita, kalau keberhasilan dunia kita jadikan alat ukur yang satu dan satu-satunya? memang kita harus berpikir lebih keras sebagai orang tua. memberi alasan yang lebih bisa diterima anak anak kita; kenapa kita mesti sekolah? kalau keberhasilan duniawi kita tidak bisa kita jadikan ukuran? ini memang PR bagi kita, kita yang sepemahaman bahwa seberapa beratnyapun pendidikan memang penting dan harus kita tempuhi.
semoga waktu akhirnya sanggup memberi jawaban yang lebih bisa diterima.. bahwa pendidikan tinggi itu penting.. dan layak untuk diperjuangkan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar