Minggu, 12 Mei 2013

Melamun Membantu Pak SBY


Pagi ini rencanaku meneruskan riset menyusur benang kusut yang membuat pemeritah bingung bertahun tahun. Hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan: kenapa daya serap anggaran kita di kuartal pertama selalu berkinerja buruk. Yang lucu sebenarnya adalah tak cukup penelitian membuktikan bahwa daya serap anggaran bisa berefek buruk pada perekonomian kita sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah negara. Maka mulailah hari-hari kemarin aku menyusur setiap data, memastikan bahwa daya serap ini merupakan hal penting untuk di perbincangkan. Bukan apa-apa, setelah di cek hal ini ternyata sudah jadi "catur" sejak 2005. Dimana pada tahun 2006 BPK mengajukan keberatan dan pertanyaan: kenapa itu terjadi (BPK menyelidiki apakah mungkin ada penyimpangan/ korupsi.. kira-kira begitulah analisa LKPP BPK.
Pagi ini saya ketawa saja. kalau memang sepenting itu, kenapa tidak dipecahkan? sampai-sampai saya lihat Presiden SBY mengeluhkan hal ini berurut-turut 3 x  April! Kan kasihan Pak SBY, sepertinya cuma bicara sama tembok? apakah sedemikian rendah apresiasi aparatur negara terhadap pak SBY.
Secara sederhana sebenarnya bisa kita ilustrassikan. Anak saya minta uang saku untuk keperluan bekal sekolah. Setelah di hitung dia bilang butuh 15 ribu rupiah. Wah.. ayah cuma punya uang 10 ribu rupiah.. yah sudah nanti ayah pinjam uang ke tetangga. Dan dikasih lah ia uang 15 ribu rupiah. Sepulang sekolah saya tanya: "uantganya sudah habis nak? dia pun menjawab"tidak yah, masih sisa 4000 rupiah, ade bingung mau dipakai apa
Dari ilustrasi sederhana tadi sebagai seorang ayah maka kita bisa menarik kesimpulan sederhana
  1. Si anak melakukan kesalahan perencanaan kebutuhan uang di sekolah, yang ternyata tidak sebesar yang ia kira. maka sang ayah memutuskan mulai besok uang sakunya di kurangi dan sang ayah tak perlu lagi meminja uang terlalu besar pada para tetangga.
  2. Si anak memang kebingungan karena ketika memberikan uang sang ayah bilang "nanti uangnya jangan dibelikan jajanan yang tidak-tidak ya.. kalo beli baso jangan yang mahal yang 500 rupiah saja" ternyata si anak memang bingung "apa maksudnya jajanan yang tidak-tidak itu?" dan si anak juga bingung beli baso di sekolahnya biasa 550 rupiah permangkok. maka sang ayah memutuskan "oooohhhh lain kali aku akan mebuat aturan yang lebih jelas, yang terukur atas semua jenis barang dan jasa yang boleh dan tidak boleh dibeli. dan akan aku buat aturan alternatif jika harga barang dan jasa yg ditetapkan tidak sesuai ketentuan berapa range yang diijinkan dan bagai mana jika diluar itu apakah sang anak boleh sms ayahnya minta pertimbangan. sang ayah paham sekarang.. sang anak memang kebingungan membelanjakan uangnya karena sebagai anak yang berbakti dia takut salah dan nanti malah di marahi ayahnya.
Pagi ini saya mangut-mangut sendiri.. ternyata aturanlah yang membuat daya serap anggaran bermasalah dan jika daya serap rendah maka sia-sia minjam uang ke orang lain bayangkan bunga? capenya kukurusukan ngamparh pinjem uang? sayang sekali rencana yg sudah di bayangkan kalo beli ini dan itu tidak jadi? apa efek dominonya?. wah.. ini baru sampai situ. belum pada apa akibat yang lebih luas dari sekedar itu?
Ternyata merenung di pagi hari lumayan bermanfaat. bahkan untuk sekedar memahami Ekonomi Makro dari sudut Manajemen Waktu pada Keuangan Negara. hmmmm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar